TO TRAVEL IS TO LIVE

TO TRAVEL IS TO LIVE

Puncak Mega #vespalovestory182

Atas Ki-Ka : Meheng, Ali, Nopi, Oding, Toras, Tongo - Bawah Ki-Ka : Snot, Aang, Adi

PUNCAK MEGA 2223 Mdpl

Maraknya pendakian belakangan ini membuat banyak orang tertarik untuk melakukan pendakian, mayoritas dari pendakian ini yaitu bertujuan untuk menikmati panorama alam dari ketinggian puncak gunung, ataupun sekedar melupakan jenuhnya rutinitas pekerjaan. Beberapa puncak gunung di Indonesia memberikan keindahan yang berbeda-beda, bentang alam yang luas, gumpalan awan yang meyerupai kapas menjadi kenikmatan tersendiri pada saat sampai di puncak gunung.
Salah satu gunung yang memberikan keindahan panorama alamnya yaitu puncak Gunung Puntang. Gunung ini memiliki ketinggian 2223 Mdpl (Meter Di atas Permukaan laut) yang terletak di Desa Puntang, Kecamatan Cimaung Kabupaten Bandung, Jawa barat.

Sunrise di Puncak mega
The Snotracer
Apa kabar Kasmir ???
Sesaat setelah sampai puncak


Jika menggunakan kendaraan umum, dari Terminal Leuwi Panjang bisa naik angkutan menuju Tegal Lega, dari Tegal Lega dapat dengan mudah ditemukan angkutan dengan jurusan Banjaran-Tegal Lega. Dari terminal Banjaran, dilanjut lagi dengan angkot Banjaran - Gamblok dan turun di depan pintu Bumi Perkemahan Gunung Puntang atau depan sekretariat PGPI.

Beristirahat sejenak di Base Camp PGPI
Kelelahan setelah pendakian
Pada tanggal 24-25 Oktober, bersamaan dengan perayaan tahun baru hijriah, Saya bersama komunitas pecinta alam Sekid ( Baca : Sekeloa Kidul ) diantaranya :
1.    Kongo (Ali Afrizal)
2.   Tongo ( Asep Tian )
3.   Aang ( Ahmad Pratama )
4.   Oding ( Dadang Ridwan )
5.   Toras ( Faisal )
6.   Meheng ( Feri Pebrianto )
7.   Adi ( Andri Apriadi ) , dan
8.   Nopi Man ( Kashmir )

kami melakukan pendakian ke puncak Gunung Puntang. Sekitar jam 20.00 wib, tepat setelah menonton acara pawai obor di daerah sayati, kami bergegas menuju Gunung Puntang.

Berkumpul di Sayati


Sekitar 45 menit perjalanan, akhirnya kami sampai di lokasi. Motor pun langsung kami parkirkan tepat di depan Base Camp PGPI. Bersama Persaudaraan Gunung Puntang Indonesia (PGPI) Sekid bekerjasama demi kelancaran pendakian yang dilaksanakan selama 2 hari 1 malam.
“Jalur aman, terbuka, asal jeli aja lihat tanda-tanda jalur menuju puncak. Kalau yang sudah pernah mendaki Gunung Cikuray tidak akan aneh melihat jalur Puntang,” ujar Anggota PGPI yang memberi info Sekid menuju jalur pendakian.
Pintu jalur pendakian Gunung Puntang berada tepat di depan basecamp/sekertariat PGPI. Bagi yang ingin melakukan pendakian mereka bisa melakukan registrasi ataupun proses perizinan di  depan gerbang lokasi perkemahan.
Meheng si Anak Rimba
Haben we BBMan ,, nyaho hese sinyal hehehe


Meskipun 2223 Mdpl dan bisa di bilang tidak terlalu tinggi, tetapi jalur menuju puncak Gunung Puntang cukup menantang, jalur yang cukup licin, sempit dan pohon-pohon yang cukup lebat membuat kami harus berhati-hati. Namun, rintangan tersebut tidak membuat kami menyerah.
Di awal pendakian, treknya langsung nanjak. Kendati tak terlalu terjal, cukup menguras tenaga. Awal jalurnya sedikit pohon, baru kemudian masuk hutan belantara yang berkelembaban tinggi hingga tanahnya cukup licin walaupun musim kemarau. 

Sejenak melepas lelah
Beristirahat di sela pendakian


Dalam menempuh puncak gunung, para pendaki akan melewati 2 punggungan gunung, yang terdiri dari pos-pos kecil. Beberapa pos yang harus dilewati pendaki diantaranya Pos Batu Kareta, Shelter bangunan 2 dan Shelter bangunan 1. Bagi para pendaki yang ingin bermalam sebelum melakukan pendakian ke puncak, bisa mendirikan tenda di Pos Bangunan 2 ataupun Pos Bangunan 1.
Tetapi dalam keadaan darurat, saat itu kami memutuskan untuk bermalam di tanjakan sebelum puncak. Dengan luas tanah yang sedikit miring akhirnya kami sejenak melepas rasa lelah dan ngantuk yang sudah mencapai ngantuk tingkat kecamatan sekeloa kidul.


Mang Oding geus teu kuat tunduh
Apapun terasa Spring Bed , yang penting Tidurrrr


Alhasil dengan luas tempat yang relatif kecil dan sedikit miring, kami semua berkumpul, mulai memasang matras dan sleeping bag. Ya walaupun sedikit menghalangi jalur pendakian  kami tetap mencoba untuk tidur da kumaha deui , Tunduh mang hahaha
Walau berdesakan dan bertumpuk, kehangatan mulai tercipta. Udara yang cukup dingin sempat membuat kami kewalahan. Tak kurang dari kami saling melempar kentut dan canda karena kedinginan. Aroma alami udara pegunungan sejenak hilang oleh bau tak sedap, bercampur dengan rasa lapar dan haus yang terhapuskan dengan melihat pemandangan langit di malam hari.


Selang beberapa jam kami pun terbangun dan mulai melanjutkan perjalanan kembali. Ketika akan menuju puncak Gunung Puntang Sekkid  kembali diberikan jalan setapak yang jauh lebih menanjak.

Mulai kehabisan tenaga
Tanjakan tiada akhir


Setelah melewati rintangan tersebut sampailah di puncak Gunung Puntang atau orang sering menyebut dengan Puncak Mega.
Setibanya di Puncak Mega yang berketinggian 2.223 meter di atas permukaan laut (Mdpl), pendaki akan menemukan sebuah plang berwarna kuning, penanda Puncak Mega.

Puncak Mega yang dinanti
Tah kitu atuh alakur 


Di sebelah Timur agak ke Utara nampak puncak Gunung Manglayang menyembul di antara hamparan awan. Di sebelah Utara, hamparan awan juga menenggelamkan badan Gunung Tangkuban Perahu sehingga yang terlihat hanya atapnya. Di sebelah Timur agak ke Selatan, nampak Gunung Tilu yang sesekali menyeruak lewati hamparan awan tipis. Sedangkan di sebelah Selatan, terlihat lereng Pegunungan Malabar. 

View pemandangan di Puncak
Hangatnya cahaya Matahari


Tak ada kata yang bisa menggambarkan keindahan dan sejuknya udara di puncak, rasa lelah dan lapar pun seakan terlupakan.

Trio Libels : Oding - Tongo Dan Meheng
Sekid In Action
Halo Si Toras Bah ,,,,
Ang sing emut anu di bumi
Adi menggoyang puncak mega
"Jangan bunuh sesuatu kecuali waktu. Jangan ambil sesuatu kecuali gambar. dan Jangan tinggalkan sesuatu kecuali jejak”

The Snotracer
" Pergilah keluar, nikmatilah alam ini dan gunung bisa jadi guru yang baik"


Akhir kata , terima kasih untuk semua anak Sekid, dan juga Istriku yang senantiasa mendoakan dan selalu menungguku pulang, Munaroooh ... Bang Ocid datang lalalala